Kamis, 01 Desember 2011

Definisi Kurikulum


Istilah kurikulum mempunyai pengertian yang cukup beragam mulai dari pengertian yang sempit hingga yang sangat luas. Pengertian kurikulum secara sempit seperti yang dikemukakan oleh William B. Ragan yang dikutip oleh Hendyat Soetopo dan Wasty Soemanto: ”Traditionally, the curriculum has meant the subject taugth in school, or course of study”.[1] Senada dengan definisi ini, Carter V. Good menyatakan: ”Curriculum as a systematic group of courses or sequences of subject required for graduation or certification in a major field of sudy, for example, social studies curriculum, physical education curriculum...”.[2] Pengertian kurikulum ini merupakan pengertian yang sempit dan tradisional. Di sini, kurikulum sekedar memuat dan dibatasi pada sejumlah mata pelajaran yang diberikan guru/sekolah kepada peserta didik guna mendapatkan ijazah atau sertifikat.
Pengertian kurikulum secara agak luas dikemukakan oleh Winarno Surahmad bahwa kurikulum adalah suatu program pendidikan yang direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai sejumlah tujuan pendidikan tertentu. [3] Senada dengan ini, dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) pada Bab I disebutkan tentang pengertian kurikulum sebagai seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan tertentu.[4] Senada dengan pengertian ini, dalam Keputusan Menteri Pendidikan Nasional (Kepmendiknas) Nomor 232/U/2000 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa pada Bab I pasal 1 ayat (6) disebutkan bahwa yang dimaksud dengan kurikulum pendidikan tinggi adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi maupun bahan kajian dan pelajaran serta cara penyampaian dan penilaiannya yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar-mengajar di perguruan tinggi.[5] Dari ketiga pengertian tersebut dapat dipahami bahwa pengertian kurikulum tidak lagi dibatasi pada sejumlah mata pelajaran tertentu, tetapi diartikan lebih luas yakni sebagai suatu program atau rencana pendidikan yang memuat sejumlah komponen untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Komponen-komponen kurikulum tersebut meliputi tujuan, isi atau bahan pelajaran, strategi pembelajaran, dan penilaian.
Pengertian kurikulum yang lebih luas lagi dikemukakan oleh Nana Sudjana yang mengartikan kurikulum sebagai program dan pengalaman belajar serta hasil-hasil belajar yang  diharapkan, yang diformulasikan melalui pengetahuan dan kegiatan yang tersusun secara sistematis, diberikan kepada peserta didik di bawah tanggung jawab sekolah untuk membantu pertumbuhan/perkembangan pribadi dan kompetensi sosial peserta didik.[6] S. Nasution juga mengemukakan bahwa pengertian kurikulum dapat ditafsirkan sebagai berikut:
1) Kurikulum dapat dipandang sebagai  program, yakni alat yang dilakukan oleh sekolah untuk mencapai tujuannya. Ini dapat berupa mengajarkan berbagai mata pelajaran tetapi dapat juga meliputi segala kegiatan yang dianggap dapat mempengaruhi perkembangan siswa misalnya perkumpulan sekolah, pertandingan, pramuka, warung sekolah, dan lain-lain.
2) Kurikulum dapat pula dipandang sebagai hal-hal yang diharapkan akan dipelajari siswa, yakni pengetahuan, sikap, keterampilan tertentu. Apa yang diharapkan akan dipelajari tidak selalu sama dengan apa yang benar-benar dipelajari.
3)  Kurikulum sebagai pengalaman siswa. Di sini kurikulum dipandang sebagai apa yang secara aktual menjadi kenyataan bagi setiap siswa.[7]
                                         
Ada dua hal yang tersirat dalam pengertian kurikulum di atas : pertama, adalah program atau rencana; dan kedua, adalah pengalaman belajar atau kegiatan nyata. Aspek yang pertama, yakni rencana/program dikenal dengan kurikulum potensial. Wujud nyata dari kurikulum potensial ini adalah buku kurikulum yang berisi tentang garis-garis besar program pembelajaran menyangkut empat komponen kurikulum yaitu tujuan, isi/materi pembelajaran,  rencana kegiatan pembelajaran, dan penilaiannya.[8] Aspek yang kedua, yakni pengalaman belajar peserta didik dikenal dengan kurikulum aktual. Wujud nyata dari kurikulum aktual ini adalah kegiatan nyata pada saat proses pembelajaran atau kegiatan lain seperti praktikum yang merupakan wujud kongkrit implementasi kurikulum potensial.
Pengertian kurikulum yang sangat luas dikemukakan oleh Hollis L. Caswell dan Doak S. Campbell yang memandang kurikulum bukan sebagai sekelompok mata pelajaran, tetapi kurikulum merupakan semua pengalaman yang diharapkan dimiliki peserta didik di bawah bimbingan para guru (all the experiences children have under the guidance of teachers).[9] Sejalan dengan pengertian ini, J. Galen Saylor dan William M. Alexander juga mengungkapkan pengertian kurikulum seperti yang dikutip S. Nasution:  "The Curriculum is the sum total of school’s efforts to  influence learning, wheather in the clasroom, on the playground, or out of school".[10]  Demikian pula Harold B, Albertycs memandang kurikulum sebagai all of the activities that are provided for students by the school.[11] Lebih lanjut Alice Miel mengemukakan:
Kurikulum juga meliputi keadaan gedung, suasana sekolah, keinginan, keyakinan, pengetahuan dan sikap orang-orang yang melayani dan dilayani sekolah, yakni anak didik, masyarakat, para pendidik dan personalia (termasuk penjaga sekolah, pegawai administrasi, dan orang lainnya yang ada hubungannya dengan murid-murid).[12]

Menurut empat pendapat di atas, pengertian kurikulum itu mencakup semua pengalaman yang diharapkan dikuasai peserta didik di bawah bimbingan para guru. Pengalaman ini bisa bersifat intrakurikuler, kokurikuler maupun ekstra kurikuler, baik pengalaman di dalam maupun di luar kelas. Dengan demikian dapat dipahami bahwa kurikulum mencakup pengertian yang sangat luas meliputi apa yang disebut dengan kurikulum potensial, kurikulum aktual, dan kurikulum tersembunyi atau hidden currilum. Kurikulum tersembunyi adalah hal atau kegiatan yang terjadi di sekolah dan ikut mempengaruhi perkembangan peserta didik, namun tidak diprogramkan dalam kurikulum potensial.[13] Pengertian kurikulum tersembunyi ini dapat dipahami dari apa yang dikemukakan oleh Alice Miel di atas.
Pengertian kurikulum yang terlalu luas di atas, ada sisi kelemahannya yakni kurang operasional sehingga akan menimbulkan kekaburan dalam pelaksanaannya di lapangan. Hilda Taba juga kurang sependapat dengan pengertian kurikulum yang terlalu luas tersebut. Menurutnya definisi yang terlampau luas mengaburkan pengertian kurikulum sehingga menghalangi pemikiran dan pengolahan yang tajam tentang kurikulum.[14]  
Dari berbagai pengertian kurikulum di atas, dalam disertasi ini pengertian kurikulum dibatasi pada seperti yang dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 dan Kepmendikas Nomor 232/U/2000 di atas. Artinya, yang dimaksud dengan kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi maupun bahan kajian dan pelajaran serta cara penyampaian dan penilaiannya yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar-mengajar untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.


[1] Hendyat Soetopo dan Wasty Soemanto, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum (Jakarta: Bina Aksara, 1986), hlm. 12.
[2] Carter V. Good, ed., Dictionary of Education, Third Edition (New York: McGraw-Hill, 1973), hlm. 157.
[3] Winarno Surahmad, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum (Jakarta: Proyek Pengadaan  Buku Sekolah Pendidikan Guru, 1977), hlm. 5.
[4]Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) dan Penjelasannya (Yogyakarta: Media Wacana, 2003),  hlm. 11.
[5]Himpunan Peraturan tentang Pendidikan Tinggi di Indonesia (Jakarta: Proyek Peningkatan Kualitas Akademik, Direktorat Pembinaan Akademik dan Kemahasiswaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Depdiknas, 2003),  hlm.  526.
[6] Nana Sudjana, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah, cet. ke-3 (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 1996), hlm. 5.
[7]  S. Nasution, Asas-Asas Kurikulum (Jakarta: Bumi Aksara, 2003), hlm. 9.
[8] Dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah tahun 1994 wujud kurikulum potensial ini berupa: 1) Buku Landasan, Program Pengembangan Kurikulum, yang berisi tentang landasan yang dijadikan acuan dan pedoman dalam pengembangan kurikulum, rumusan tujuan pendidikan nasional dan institusional, dan program pengajaran; 2) GBPP (Garis-Garis Besar Program Pengajaran)  yang berisi tentang rumusan tujuan dan ruang lingkup materi pelajaran; dan  3) Buku Pedomanan Pelaksanaan Kurikulum yang berisi tentang pedoman kegiatan belajar mengajar, pedoman bimbingan belajar/bimbingan karier serta pedoman penilaian kegiatan dan hasil belajar. Depdiknas, Kurikulum Pendidikan Dasar: Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP) Sekolah Dasar (SD) Mata Pelajaran PAI (Jakarta: Dirjen Dikdasmen, 1993/1994), hlm. iii. Dan juga: Depag, Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP) Madrasah Tsanawiyah (MTs) Mata Pelajaran Fiqh (Jakarta: Dirjen Binbaga Islam, 1994/1995), hlm. iv. Dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dikenal adanya empat komponen dokumen kurikulum, yaitu Kurikulum dan Hasil Belajar, Proses Belajar Mengajar (PBM), Penilaian Berbasis Kelas (PBK), dan Pengelolaan Kurikulum Berbasis Sekolah/Madrasah (PKBS/M). Depdiknas, Kurikulum Berbasis Kompetensi (Jakarta: Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas, 2002).
[9] Peter F. Oliva, Developing the Curriculum (Boston: Little, Brown and Company, 1982), hlm. 6.
[10] S. Nasution, Asas-Asas Kurikulum, hlm. 4.
[11] Ibid., hlm. 5.
[12] Ibid., hlm. 6.
[13] Nana Sudjana, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum, hlm. 7.
[14] S. Nasution, Asas-Asas Kurikulum, hlm.7.

Tidak ada komentar: